"Mana mungkin tanpa adanya dukungan mereka, aku masih gagah berjuang?
Mana mungkin tanpa adanya cemoohan mereka, aku masih kukuh harapan?
Tidak perlu berpikir jadi apa aku nanti? karena dukungan dan cemoohan
mereka adalah sumber kekuatanku.”
Aku terlahir dari keluarga sederhana, akan tetapi cita-cita aku
sangat besar untuk sukses mendunia. Sebut saja aku “Licha.” aku enggan
dengan keramaian, juga enggan untuk bercerita meski duri kehidupan
sering menghantamku, terkecuali dalam situasi terpaksa. Kenapa demikian?
karena menurutku, mereka yang mampu mendengar belum tentu mampu
mengerti, itulah sebabnya banyak hal perlu disimpan pada diri sendiri.
Hingga suatu ketika masalah besar terjadi pada diri aku. Antara kuliah
atau kerja? aku masih memusingkannya.
Pagi cerah, dengan keindahan senja dan kicauan burung yang agung
suaranya. Seperti biasa, aku duduk di pelataran rumah untuk melihat
mereka -masyarakat- yang tengah memulai aktivitasnya. “Hei.. kamu tidak
kuliah?” tanya bibi aku dari balik pintu dan kemudian menghampiriku.
“Entah? aku masih bingung. Antara kuliah atau kerja?” jawabku polos.
“Memangnya mengapa? bukankah satu bulan lalu kamu sudah lulus tes dan
terdaftar menjadi mahasiswa?” tanyanya lagi. “Iya, tetapi akhir-akhir
ini orangtua aku meminta aku untuk melanjutkan kuliah di lingkungan
pondok pesantren.” jawabku.
“Oh, meskipun begitu entah kuliah di lingkungan pesantren atau luar
pesantren, kamu harus tetap kuliah. Toh! selama ini masyarakat
mempercayaimu sebagai orang yang bisa sukses kedepannya. Apakah kamu
akan menyia-nyiakan kepercayaan itu begitu saja?” ujarnya. Sedangkan aku
hanya membalasnya dengan senyum percaya diri.
Sore harinya, aku dan keluarga aku melihat televisi bersama.
“Apakah aku akan bertanya, sedangkan mereka terlihat apatis dengan masa depan aku?” gumamku dalam hati.
“Ehh.. Ayah.. bagaimana dengan her-registrasi aku? apakah Ayah akan
membayarnya dan menyetujui keinginan sa..sa..aku?” tanyaku gugup. “Untuk
apa kuliah. Sedangkan kamu belajar nalar saja tidak pernah. Jika kamu
masih ingin lanjut belajar, maka kamu berarti memilih hidup di
pesantren. HARUS!” sentak ibuku.
Kemudian hening, hanya ada jawaban dari ibuku, sedangkan ayah aku
hanya tersudut diam. “Tak ada lagi harapan untuk menjadi seorang
mahasiswa dan mewujudkan cita-citaku.” seperti itulah yang aku rasakan
seketika ucapan itu tertutur. Sampai di penghujung bulan, aku masih
memusingkan ketidakpastian masa depanku. Hingga pada suatu ketika ayah
menghampiriku. “Nak, segera bersiap-siap, Ayah akan segera melunasi
semua biaya her-registrasi kamu!” ucapnya. Seperti mimpi. Iya! Setelah
beberapa minggu aku memusingkannya kini terjawab sudah. Tetapi, entah
mengapa aku merasa ada paksaan yang membuat ayah dan ibu saja memilih
keputusasaan tersebut. “I..ii..iya Ayah, jawabku bimbang.
Selang beberapa minggu kemudian, perlahan tanya-tanya aku terjawab
nyata. Iya! hipotesis aku benar. Nasihat kakek akulah yang membuat
mereka memilih keputusan tersebut. Beberapa tahun kemudian. Aku sudah
berada di semester III, yang entah mengapa aku berpikir ingin berhenti
kuliah dan memilih untuk bekerja. Mungkin karena alasan pertama melihat
teman sekampung aku yang sudah bisa memberi materi kepada orangtuanya.
Sedangkan aku hanya bisa meminta.
“Kapan, tidak lagi bersandar pada orangtua layaknya mereka yang
mandiri? Kapan, bukan lagi meminta tetapi memberi. Memberi rasa bangga
dan juga materi?” Pertanyaan yang tengah bergelayut di benakku. Alasan
kedua, selama aku kuliah aku hanya dapat modal dukungan dari orang lain,
bukan dari orangtuaku sendiri. Karena dari awal mereka sudah meragukan
diriku, dan mungkin karena yang mereka lihat di sekitar mereka, bahwa
banyak lulusan sarjana yang hanya berdiam diri di rumah. Tetapi aku
tidak pernah berputus asa, aku terus bermimpi dan percaya akan hari
bahagia nanti.
Aku juga terus berusaha untuk menghilangkan keyakinan orangtuaku. Aku
melakukan berbagai kegiatan di kampungku. Di antaranya adalah mengajar
pelajaran bahasa arab dan bahasa indonesia kepada adik-adik kelasku yang
masih duduk di Madrasah Ibtida’iyah (MI) tanpa imbalan sereceh pun.
Niatku hanya satu mengamalkan ilmu-ilmu yang aku peroleh dan membuat
orangtuaku bangga denganku. Karena bagiku, tidak ada kebahagiaan yang
sejati kecuali senyum orangtua yang bangga akan diri kita. Hingga pada
akhirnya, di hari wisuda sarjana S1, aku berhasil menghilangkan
keyakinan buruk mereka. Aku terpanggil menjadi mahasiswa terbaik
se-Universitas. Dan membuat mereka berkata, “Kami bangga denganmu Nak.”
Cerpen Karangan: Zuhrotus Sholihah
Facebook: Dek Tuez
Nama saya Zuhrotus Sholihah. Saya lahir di Lamongan, 24 Januari 1998.
Saya mahasiswa di UNIVERSITAS ISLAM DARUL ULUM LAMONGAN. Lebih tepatnya
di Fakultas Agama Islam – Program Studi Agama Islam. Terima Kasih.
http://cerpenmu.com/cerpen-motivasi/bersinar-bersama-mimpi-layaknya-matahari.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar