Senin, 01 Februari 2016

Bersinar Bersama Mimpi, Layaknya Matahari

"Mana mungkin tanpa adanya dukungan mereka, aku masih gagah berjuang? Mana mungkin tanpa adanya cemoohan mereka, aku masih kukuh harapan? Tidak perlu berpikir jadi apa aku nanti? karena dukungan dan cemoohan mereka adalah sumber kekuatanku.”
Aku terlahir dari keluarga sederhana, akan tetapi cita-cita aku sangat besar untuk sukses mendunia. Sebut saja aku “Licha.” aku enggan dengan keramaian, juga enggan untuk bercerita meski duri kehidupan sering menghantamku, terkecuali dalam situasi terpaksa. Kenapa demikian? karena menurutku, mereka yang mampu mendengar belum tentu mampu mengerti, itulah sebabnya banyak hal perlu disimpan pada diri sendiri. Hingga suatu ketika masalah besar terjadi pada diri aku. Antara kuliah atau kerja? aku masih memusingkannya.
Pagi cerah, dengan keindahan senja dan kicauan burung yang agung suaranya. Seperti biasa, aku duduk di pelataran rumah untuk melihat mereka -masyarakat- yang tengah memulai aktivitasnya. “Hei.. kamu tidak kuliah?” tanya bibi aku dari balik pintu dan kemudian menghampiriku. “Entah? aku masih bingung. Antara kuliah atau kerja?” jawabku polos. “Memangnya mengapa? bukankah satu bulan lalu kamu sudah lulus tes dan terdaftar menjadi mahasiswa?” tanyanya lagi. “Iya, tetapi akhir-akhir ini orangtua aku meminta aku untuk melanjutkan kuliah di lingkungan pondok pesantren.” jawabku.
“Oh, meskipun begitu entah kuliah di lingkungan pesantren atau luar pesantren, kamu harus tetap kuliah. Toh! selama ini masyarakat mempercayaimu sebagai orang yang bisa sukses kedepannya. Apakah kamu akan menyia-nyiakan kepercayaan itu begitu saja?” ujarnya. Sedangkan aku hanya membalasnya dengan senyum percaya diri.
Sore harinya, aku dan keluarga aku melihat televisi bersama.
“Apakah aku akan bertanya, sedangkan mereka terlihat apatis dengan masa depan aku?” gumamku dalam hati.
“Ehh.. Ayah.. bagaimana dengan her-registrasi aku? apakah Ayah akan membayarnya dan menyetujui keinginan sa..sa..aku?” tanyaku gugup. “Untuk apa kuliah. Sedangkan kamu belajar nalar saja tidak pernah. Jika kamu masih ingin lanjut belajar, maka kamu berarti memilih hidup di pesantren. HARUS!” sentak ibuku.
Kemudian hening, hanya ada jawaban dari ibuku, sedangkan ayah aku hanya tersudut diam. “Tak ada lagi harapan untuk menjadi seorang mahasiswa dan mewujudkan cita-citaku.” seperti itulah yang aku rasakan seketika ucapan itu tertutur. Sampai di penghujung bulan, aku masih memusingkan ketidakpastian masa depanku. Hingga pada suatu ketika ayah menghampiriku. “Nak, segera bersiap-siap, Ayah akan segera melunasi semua biaya her-registrasi kamu!” ucapnya. Seperti mimpi. Iya! Setelah beberapa minggu aku memusingkannya kini terjawab sudah. Tetapi, entah mengapa aku merasa ada paksaan yang membuat ayah dan ibu saja memilih keputusasaan tersebut. “I..ii..iya Ayah, jawabku bimbang.
Selang beberapa minggu kemudian, perlahan tanya-tanya aku terjawab nyata. Iya! hipotesis aku benar. Nasihat kakek akulah yang membuat mereka memilih keputusan tersebut. Beberapa tahun kemudian. Aku sudah berada di semester III, yang entah mengapa aku berpikir ingin berhenti kuliah dan memilih untuk bekerja. Mungkin karena alasan pertama melihat teman sekampung aku yang sudah bisa memberi materi kepada orangtuanya. Sedangkan aku hanya bisa meminta.
“Kapan, tidak lagi bersandar pada orangtua layaknya mereka yang mandiri? Kapan, bukan lagi meminta tetapi memberi. Memberi rasa bangga dan juga materi?” Pertanyaan yang tengah bergelayut di benakku. Alasan kedua, selama aku kuliah aku hanya dapat modal dukungan dari orang lain, bukan dari orangtuaku sendiri. Karena dari awal mereka sudah meragukan diriku, dan mungkin karena yang mereka lihat di sekitar mereka, bahwa banyak lulusan sarjana yang hanya berdiam diri di rumah. Tetapi aku tidak pernah berputus asa, aku terus bermimpi dan percaya akan hari bahagia nanti.
Aku juga terus berusaha untuk menghilangkan keyakinan orangtuaku. Aku melakukan berbagai kegiatan di kampungku. Di antaranya adalah mengajar pelajaran bahasa arab dan bahasa indonesia kepada adik-adik kelasku yang masih duduk di Madrasah Ibtida’iyah (MI) tanpa imbalan sereceh pun. Niatku hanya satu mengamalkan ilmu-ilmu yang aku peroleh dan membuat orangtuaku bangga denganku. Karena bagiku, tidak ada kebahagiaan yang sejati kecuali senyum orangtua yang bangga akan diri kita. Hingga pada akhirnya, di hari wisuda sarjana S1, aku berhasil menghilangkan keyakinan buruk mereka. Aku terpanggil menjadi mahasiswa terbaik se-Universitas. Dan membuat mereka berkata, “Kami bangga denganmu Nak.”

Cerpen Karangan: Zuhrotus Sholihah
Facebook: Dek Tuez
Nama saya Zuhrotus Sholihah. Saya lahir di Lamongan, 24 Januari 1998. Saya mahasiswa di UNIVERSITAS ISLAM DARUL ULUM LAMONGAN. Lebih tepatnya di Fakultas Agama Islam – Program Studi Agama Islam. Terima Kasih.

 http://cerpenmu.com/cerpen-motivasi/bersinar-bersama-mimpi-layaknya-matahari.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar